This is my daily thoughts. It's all about my personal life, my believe, my hobby, my daily activities, mobile/wireless technology, books review, movie review, and new media design related. Mixed language using in this weblog (Indonesia/English).
category: general
google-it! | DIGG! | Del.icio.us
Tentang Hari Sabat : kok jadi Hari Minggu?
Sumber Buku Selamat Paskah karangan Andar Ismail, bab 12.
Apa perasaan Anda jika membaca titah keempat dari Dasa Titah? Ada yang merasa janggal. Karena di situ dikatakan, "Kuduskanlah hari Sabat", padahal kita berbakti pada hari Minggu.
Memang benar, hari kebaktian yang ditetapkan Dasa Titah adalah hari Sabat, yaitu hari ketujuh, atau yang sekarang ini disebut hari Sabtu.
Gereja mula-mulapun berbakti pada hari Sabtu, meneruskan kelaziman itu. Tetapi kemudian Gereja mengalihkan kebaktian dari hari Sabtu ke hari Minggu.
Bilamana tepatnya perubahan itu terjadi, tidaklah kita ketahui. Namun agaknya tidak terlalu lama setelah kebangkitan Yeus. Di Kis 20:7 kita membaca : "Pada hari pertama dalam minggu ini, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti...." Dan di I Kor 16:2 Paulus menulis : "Pada hari pertama dari tiap-tiap
minggu hendaklah kamu..."
Tentunya ada alasan yang sangat kuat untuk mengubah hari kebaktian itu. Adapun dasarnya adalah karena mereka memandang kebangkitan Yesus sebagai peristiwa yang besar, sehinga mereka ingin merayakannya setiap minggu. Dan karena Yesus dibangkitkan pada hari Minggu, merekapun bersedia mengalihkan hari kebaktian
menjadi hari Minggu.
Pada akhir abad pertama, gereja pun lazim menyebut "Hari Tuhan" sebagai sebutan untuk hari Minggu. Sebutan itu kita temui di Wahyu 1 : 10. Kitab Wahyu itu ditulis di Asia Kecil di mana ada kebiasaan pemujaan kepada kaisar dan sebulan sekali ada "Hari Kaisar" untuk menghormati naiknya kaisar ke takhta. Lalu Gereja memakai "Hari Tuhan" untuk menyatakan penghormatan kepada Kristus yang naik atau bangkit dari kematian.
Sebutan "Hari Minggu" dalam bahasa kita sebenarnya juga berarti "Hari Tuhan", sebab kata 'Minggu' berasal dari kata Portugis 'Dominggo' yang berarti hari Tuhan.
Dalam kebudayaan Yunani, pada zaman itu hari Minggu pun sudah menjadi perayaan untuk menghormati dewa matahari. Mereka menyebut hari minggu sebagai "Hari Matahari. Tetapi Gereja memberi arti yang baru dengan mengatakan bahwa hari itu adalah hari penghormatan kepada "Matahari Kebenaran" (Maleakhi 4:2), yaitu
Yesus Kristus. Dari sebutan itulah kini kita mengenal nama Sunday, Zondag atau Sonntag.
Apakah ketika itu hari Minggu sudah merupakan hari libur? Di banyak daerah -yang pasti di antara orang Yahudi- belum. Kalau begitu bagaimana mereka bisa berbakti?
Hal itu bisa terjadi karena hari dalam perhitungan Yahudi, bukanlah seperti perhitungan kita yaitu dari pukul dua belas malam hingga dua belas malam, melainkan dari matahari terbenam hingga ke matahari terbenam keesokan harinya. Jadi rupanya kebaktian pada waktu itu diadakan pada hari Sabtu malam menurut
perhitungan kita, yang bagi mereka sudah hari Minggu.
Tetapi karena Gereja Purba terus merayakan hari Minggu sebagai hari kebaktian, lambat laun kebiasaan itu makin diterima oleh masyarakat. Dan pada tahun 321 Constantinus dengan undang-undang menetapkan hari Minggu sebagai hari libur di seluruh wilayah kekaisarnnya.
Dari ketetapan itu -yang kemudian menjadi universal- kini dunia mengenal hari Minggu sebagai hari libur.
Tetapi bagi Gereja, asal-usul menjadikan hari Minggu sebagai hari kebaktian adalah karena hari itu adalah hari kebangkitan Tuhan, sehingga hari Minggu adalah Hari Tuhan, yaitu Hari Milik Tuhan dan Hari Untuk Tuhan.